Kalak KARO

18 02 2008

kab-karo.jpg

Karo, Merupakan salah satu sub-sukubangsa Batak yang bermukim di dataran tinggi Karo, Langkat Hulu, Deli Hulu, Serdang Hulu, dan Dairi. Sebagian besar orang Karo masih tinggal di desa-desa (kuta), yang juga merupakan kesatuan teritorial yang dihuni oleh beberapa klen (merga) yang berbeda. Dalam sebuah kua terdapat dua atau lebih deretan rumah adat. Sebuah rumah adat biasanya dihuni oleh 4 – 8 keluarga batih (jabu), yang terikat hubungan kekerabatan secara patrilineal. Jabu merupakan organisasi sosial dan ekonomi terpenting pada masyarakat karo.

Matapencaharian utama orang Karo adalah bercocok tanam di sawah, sedangkan sistem perladangan yang pernah dijalankan sudah hampir hilang sama sekali. Peternakan juga dilakukan masyarakat, terutama pemeliharaan kerbau dan babi. Kerbau diperlukan untuk membajak sawah, sedangkan babi selain untuk dikonsumsi juga di manfaatkan dalam pesta adat.

Dalam kehidupan orang Karo, hubungan kekerabatan menjadi unsur terpenting yang berkaitan dengan semua aspek kehidupan. Hubungan kekerabatan dihitung menurut garis laki-laki (patrilineal). Kelompok kekerabatan yang terkecil disebut jabu, yang juga digunakan untuk menyebut keluarga luas virilokal. Sedangkan kelompok kekerabatan yang tersebar adalah merga atau klen. Orang Karo mengenal lima klen besar, yaitu Ginting, Karo-karo, Perangin-angin, Sembiring, dan Tarigan. Hubungan di antara kelompok-kelompok kekerabatan didasarkan atau suatu prinsip yang disebut sangkep sitelu (tiga yang utuh). Prinsip ini menyangkut tiga kelompok kerabat, yaitu kelompok kerabat sendiri (senina), kelompok pemberi gadis (Kalimbubu), dan kelompok penerima gadis (Anak beru). Kelompok pemberi gadis selalu lebih tinggi kedudukannya dari pada kelompok penerima gadis

Perkawinan pada masyarakat Karo bersifat eksogami merge, dalam arti pertukaran wanita tidak terjadi secara timbal balik antara dua kelompok kerabat saja. Dalam kenyataannya kelompok kekerabatan yang benar-benar melakukan perkawinan exogami adalah kelompok kerabat sada nina. Orang karo mengenal pula adat perkawinan lakoman, yaitu perkawinan antara seorang janda dengan saudara laki-laki almarhum suaminya; dan perkawinan gancibahu, yaitu perkawinan antara seorang duda dengan saudara perempuan almarhum istrinya. Di tanah Karo, dan tanah Batak pada umumnya, sekalipun agama Islam, Kristen Protestan dan Katholik telah masuk, agama asli yang disebut perbegu tetap besar pengaruhnya. Bahkan orang Karo yang menganut agama asli ini lebih banyak daripada yang menganut agama-agama besar tersebut. Bentuk religi yang dijalankan adalah pemujaan terhadap roh kerabat yang telah meninggal. Orang Karo mengenal beberapa roh pelindung, antara lain : Mate sada wari, yaitu roh kerabat yang mati mendadak karena kecelakaan, terbunuh, dan sebagainya ; serta Batara Guru, yaitu roh bayi yang meninggal sebelum tumbuh giginya. Dalam sistem religi dilakukan serangkaian upacara adat yang dipimpin oleh seorang dukun wanita disebut Guru si baso.

Dialah yang menjadi perantara manusia dengan roh halus. Dalam suatu upacara pemujaan dukun wanita tersebut kemasukan roh sehingga dapat berhubungan langsung dengan roh yang ingin dihubungkan.[sumber tmmi.com]





VIY 2008 di Pekan Pariwisata Internasional

18 02 2008

VIY 2008 di Pekan Pariwisata Internasionalvisitindonesiayear2008.jpg

“Visit Indonesia Year (VIY) 2008″ dalam pameran wisata internasional yang diikuti industri pariwisata di seluruh dunia.

Raja Spanyol Juan Carlos dan Ratu Sofia membuka secara resmi penyelenggaraan pekan pariwisata internasional (Feria Internacional de Turismo, Salon de Turismo/FITUR 2008) itu pada Rabu (30/1), demikian keterangan Pelaksana Fungsi Sosial Budaya KBRI Spanyol, Allen Simarmata, dalam keterangannya kepada ANTARA News di London.

Dalam acara yang dijadwalkan berlangsung hingga hingga 3 Februari 2008 tersebut, menurut dia, merupakan kesertaan Indonesia untuk yang kedelapàn kalinya, dan ditampilkan demo membatik, spa ala Bali dan kesenian Indonesia berupa tari-tarian tradisionil.

Anjungan Indonesia dalam pameran pariwisata terbesar kedua sedunia, setelah ITB di Berlin, tersebut diisi sepuluh biro perjalanan, pengelola objek wisata dan hotel, termasuk dua biro perjalanan wisata Spanyol yang mempromosikan Indonesia yang sebagian besar berasal dari Bali, ujarnya.

Pada anjungan Indonesia yang seluas 77 meter persegi itu ditampilkan praktik pembuatan desain busana khas Indonesia oleh perajin batik yang didatangkan khusus dari APIP Kerajinan Batik Indonesia, Yogyakarta.

Selain itu, delegasi Indonesia juga memamerkan koleksi batik, dan bahkan para pengunjung bisa langsung belajar proses pembuatan batik.

Delegasi Indonesia juga mengetengahkan pemijatan dan spa ala Bali oleh Bali Spa Madrid, Banjar Group, konsultasi terapi dan spa yang khusus didatangkan dari Bali, ujarnya.

Suasana tempat spa di pameran itu menerapkan disain bernuansa Bali dilengkapi dekorasi kerajinan tangan Bali, seperti patung dan furniture Bali. Suasana ruangan juga dilengkapi dengan aroma therapi Bali yang khas dan natural.

Dikatakannya, selama berlangsungnya FITUR 2008, anjungan Indonesia juga penampilan tari-tarian tradisional Indonesia seperti Tari Bali dan Tari Piring dan Tari Rantak dari Sumatera Barat.

Disela-sela pameran FITUR, di anjungan Indonesia juga menyuguhkan kopi asli Indonesia dan aneka makanan ringan yang dapat dicicipi pengunjung sambil mengadakan kontak bisnis dengan rekan sesama industri pariwisata Indonesia.

Direktur Jenderal Pemasaran Depbudpar, Thamrin Bachri, didampingi oleh Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Madrid, O’Conroy Doloksaribu, menggelar acara jumpa pers di Planta 1 Edificio Central De Officina Puerta sur Ifema dan sekaligus meluncurkan Visit Indonesia Year 2008.

Sebagai bagian dari FITUR, Indonesia juga berpartisipasi pada acara festival musik rakyat ke 28 “The People of the world Folklore Festival,” bertempat di South Auditorium IFEMA Feria de Madrid, demikian Allen Simarmata. (*) [sumber: http://www.antara.co.id]